Spiritualitas Peningkatan IMTAQ dan IPTEK dengan SADAR yang Berkelanjutan

Oleh : Suradi, SE, MM, CPS-Baitul Hikmah

Pendahuluan. IMTAQ (Iman dan Taqwa) dan IPTEK (Ilmu Pengetahuan dan Teknologi) dalam Islam adalah dua hal yang tidak terpisahkan. Imtaq berfungsi sebagai fondasi dan pengendali moral, sementara Iptek sebagai alat untuk mempermudah kehidupan dan mengenal Allah. Integrasi keduanya menciptakan manusia berilmu yang berakhlak mulia (insan kamil).

IMTAQ sebagai pengendali IPTEK : IPTEK tanpa iman dan taqwa dapat menyebabkan kerusakan, sementara IMTAQ memastikan Iptek digunakan untuk kemaslahatan, bukan merusak. Landasan syariat : pemanfaatan IPTEK harus sesuai dengan standar syariat Islam (halal-haram). Tujuan bersama : IPTEK dipelajari untuk meningkatkan kualitas hidup dan sebagai sarana beribadah serta mengenal sifat-sifat Allah. Keseimbangan: Islam menuntut keseimbangan antara kecerdasan intelektual (IPTEK) dan kecerdasan spiritual (IMTAQ).

Sejarah mencatat ilmuwan muslim terdahulu (seperti Ibnu Sina) memadukan ilmu agama dengan ilmu pengetahuan, menghasilkan teknologi optik, aljabar, dan alat medis.Pentingnya integrasi ini sering dirumuskan sebagai manusia yang menguasai IPTEK (ilmu pengetahuan dan teknologi) sekaligus memiliki IMTAQ (iman dan takwa) yang kuat, agar teknologi membawa kemajuan, bukan kehancuran.

Approach. Mengawali sharing session spesial ini, Suradi mengajak jamaah membuka kembali kitab suci Al Quran khususnya pada surat Ali Imran ayat 104 yang artinya “Hendaklah ada di antara kamu segolongan orang yang menyeru kepada kebajikan, menyuruh (berbuat) yang makruf, dan mencegah dari yang mungkar. Mereka itulah orang-orang yang beruntung.” (QS 3 : 104).

Yang menjadi learning point adalah terdapat 2 dimensi. Pada dimensi hasil adalah orang yang beruntung dan pada dimensi proses menyeru kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar. Intinya ketika kita berkomitmen menjadi orang yang beruntung (dimansi hasil) maka ada 3 persyaratan utama yaitu menyeru kebajikan, menyuruh yang ma’ruf dan mencegah yang munkar (dimensi proses).

Di sisi lain ada sebuah riawayat tentang 3 golongan manusia. Golongan yang pertama golongan manusia yang beruntung “Hari ini lebih baik daripada kemarin maka termasuk golongan orang yang beruntung. Golongan kedua orang yang merugi “Hari ini sama dengan kemarin” maka termasuk golongan orang yang merugi, Golongan yang ketiga golongan orang yang terlaknat “Hari ini lebih jelek daripada kemarin” adalah golongan orang yang terlaknat.

Mengarungi samudera kehidupan dengan SADAR. Dalam konteks kali ini SADAR merupakan sebuah akronim yang bermakna Spiritual touch, Awareness, Dedication, Achievable & Responsibility. Bagaimana mendiskripsikannya secara sederhana dan mudah dipahami berikut ini pemaknaannya.

Spiritual Touch. Dalam hingar bingar urusan dan kesibukan di dunia telah diatur suatu regulasi dan juga tradisi yang menjadi kearifan lokasi. Dalam urusan di dunia dan di akherat selayaknya kita membuka kembali sebuah riwayat. “Aku tinggalkan kepadamu dua perkara yang kalian tidak akan tersesat apabila (berpegang teguh) kepada keduanya, yaitu Kitabullah dan Sunnahku, keduanya tidak akan berpisah, sehingga keduanya datang kepadaku di Telaga (al-Haudh).” (HR. Al-Hakim dan Al-Baihaqi).

Yang menjadi learning point bagi kita secara personal pentingnya pendekatan secara spiritual dalam mengharmonikan keshalehan atau kecerdasan yang dimiliki seseorang. Secara komunal dalam berorganisasi atau bekerja di suatu perusahaan terdapat visi, misi, strategi, sasaran, target dan program kerja meurujuk ke upaya pencapaian Key Performance Indicator (KPI).

Awareness. Kesadaran baik secara personal maupun secara komunal menjadi kata kunci bagi kita untuk melakukan instrospeksi diri. Dalam Al Quran terutama di surat Al Hasyr ayat 18 membeikan petunjuk bagi hamba-hamba Nya. “ Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap orang memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok (akhirat). Bertakwalah kepada Allah. Sesungguhnya Allah Maha Teliti terhadap apa yang kamu kerjakan.” (QS 59 : 18).

Yang menjadi ibrah dan hikmah bagi kita adalah maei kita melakukan koreksi diri dengan mengidentifikasi apa saja yang lebih dominan yang sudah dilakukan. Apakah lebih dominan kebaikan atau sebaliknya? Bangun semangat perbaikan diri dengan mengoptimalkan apa saja yang menjadi Strenght (S) dan menindaklanjuti apa yang menjadi Opportunity For Improvement (OFI). Ketika kita berada atau pada posisi best performance maka usahakan tetap dan terus mawas diri dengan melakukan preventive action dan mitigation risk. Jangan lupa untuk tetap dan terus berkomitmen dan berkonsistensi diri di jalan kebaikan serta bersyukur. Karena pada prinsipnya ketika kita bersyukur atas nikmat yang diterima maka akan ditambah nikmat tersebut.

Dedication. Dalam mengarungi samudra kehidupan mulai bangun tidur, persiapan beraktivitas menuju tempat kita berprofesi, di tengahnya kita beraksi sesuai profesi kita masing-masing dan akhirnya kembali ke tempat tinggal dan beristirahat kemudian memutar siklus PDCA kehidupan di hari berikutnya. Adakah terpikir oleh kita sebenarnya aktivitas tersebut kita dedikasikan atau persembahkan untuk apa dan untuk siapa?

Selayaknya kita membuka kembali cahaya, petunjuk dan rakhmat yang tertuang dalam surat Adz Dzariyat ayat 56 : “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS 51 : 56).

Maka ada ibrah dan hikmah mari kita luruskan niat segala aktivitas ini adalah kita dedikasikan atau persembahkan untuk beribadah kepada Allah. Dengan meluruskan niat aktivitas kita untuk beribadah maka semakin bersemangat dalam bekerja, semakin baik hasilnya dan semakin terjaga hidup ini di jalan kebaikan. Jalankan aktivitas kehidupan secara proporsional dengan mengharmonikan kecerdasan individual, kecerdasan sosial dan kecerdasan profesional dalam kerangka spiritualitas tingkatkan IMTAQ dan IPTEK sesuai kompetensi yang kita miliki atas karunia Allah.

Achievable. Dalam mengisi hidup dan kehidupan ini kita terpolarisasi oleh dua kondisi yaitu kondisi before dan after sehingga bisa membandingkannya apakah target baik secara personal maupun komunal sudah tercapai atau belum, bila sudah tercapai seberapa besar pertumbuhannya, bila belum tercapai apa saja yang menjadi action plan berikutnya untuk melakukan review yang outputnya adalah innovation atau improvement.

Begitu penting dan strategisnya manajemen waktu dalam mencapai target tersebut maka dalam Islam ada petunjuk dan pedoman hidup yang tertuang dalam Al Quran khususnya Surat Al Ashr ayat 1-3 : “ (1) Demi masa, (2) sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian,(3) kecuali orang-orang yang beriman dan beramal saleh serta saling menasihati untuk kebenaran dan kesabaran.” (QS 103 : 1-3).

Proses pembelajaran dan hikmah bagi kita adalah mari kita lebih baik lagi dalam menghargai waktu, lebih meningkat dalam IMTAQ dan IPTEK secara sistemik (input-proses-output) bahwa hari ini lebih baik daripada kemarin. Melakukan evaluasi atau review kondisi Before vs After dan untuk pencapaiannya perkokoh silaturahmi dan sinergi untuk tingkatkan IMTAQ dan IPTEK.

Responsibility. Dalam menjalani kehidupan ini banyak aktivitas yang kita lakukan baik secara vertikal yang berhubungan dengan Sang Khalik (Hablum minallah), dengan sesaama manusia (Hablum minannas) dan juga dengan alam di sekitarnya (Hablum minal ‘alam).

Dalam Al Quran surat Al Mudassir ayat 38 : “Setiap orang bertanggung jawab atas apa yang telah ia lakukan” (QS 74 : 38).

Oleh karena itu menjadi petunjuk, pengingat dan penyemangat kita agar dalam bertindak senantiasa lebih mengutamakan preventive action dan melakukan mitigation risk karena pada dasarnya setiap perbuatan kita akan dipertanggungjawabkan baik di dunia untuk patuh dan taat dengan aturan yang ada maupun di akherat. Bahkan pertanggungjawaban kita di akherat yang akan menjawabnya anggota tubuh kita. Untuk apa tangan kita digunakan berbag manfaat dengan sesama atau mempersulit, kemana saja kaki melangkah apakah di jalan kebaikan atau maksiat, dipake apa saja mata kita apakah melihat untuk yang bermanfaat atau mudharat, mengucapkan apa saja mulut kita apakah jujur atau berbohong dan lainnya.

Momentun semakin meningkat dan berkelanjutan. Di penghujung penyajian materi sharing session dapat disimpulkan mari kita jadikan Ramadan dan Idul Fitri bukan hanya sebagai ritual tahunan, tetapi sebagai momentum perubahan. Mari kita jadikan pribadi kita, pribadi yang lebih baik lagi dan mari kita jadikan kompetensi yang Allah karuniakan kepada hamba ini untuk meningkatkan IMTAQ dan IPTEK. Spirit Ramadan (pendidikan), spirit Idul Fitri (kemenangan), spirit Syawal (peningkatan) bukan ending point justru menjadi starting point untuk tetap dan terus istiqomah serta mewarnai bulan-bulan berikutnya. Semoga setelah Ramadan dan Idul Fitri berlalu, semangat meningkatkan IMTAQ dan IPTEK tetap hidup dan berkibar.

Untuk mengorkestrasikan perjalanan dan perjuangan hidup kita ini ada baiknya berkotemplasi sejenak melalui pantun bernasehat berikut ini.

Ada pesta ada hadiah,
Hadiah dibuka isinya sekuntum bunga mawar.
Indahnya berbagi ilmu dan hikmah,
Bersama tingkatkan IMTAQ dan IPTEK dengan SADAR.

Bunga melati sungguh menawan,
Warnanya memikat putih berseri tidak memudar.
Mari kita satukan hati dalam keberagaman,
Tetap semangat tingkatkan IMTAQ dan IPTEK dengan SADAR.

(Sumber : Dikembangkan penulis sebagai narasumber kultum acara Halal Bi Halal 1447H-2026 Asosiasi Manajemen Mutu dan Produktivitas Indonesia di Bekasi pada Sabtu, 11 April 2026)