“Qurban: Jalan Menuju Ketakwaan dan Kedekatan kepada Allah”
Sabtu, 9 Mei 2026
Penceramah: Ustadz Dr. Muhammad Anwar, Lc, MA.
Pendahuluan
Ibadah qurban merupakan salah satu syiar besar dalam Islam yang dilaksanakan pada hari raya Idul Adha. Qurban bukan sekadar penyembelihan hewan, tetapi simbol penghambaan, ketakwaan, keikhlasan, dan pengorbanan seorang hamba kepada Allah سبحانه وتعالى.
Kata qurban berasal dari akar kata Arab:
yang berarti dekat atau mendekatkan diri. Maka hakikat qurban adalah usaha mendekatkan diri kepada Allah melalui ketaatan dan pengorbanan.
1. Qurban Sebagai Sarana Mendekatkan Diri kepada Allah
Allah memerintahkan orang-orang beriman untuk bertakwa dan mencari jalan mendekatkan diri kepada-Nya.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, carilah wasilah (jalan mendekatkan diri) kepada-Nya dan berjihadlah di jalan-Nya agar kalian beruntung.” (QS. Al-Ma’idah: 35)
Qurban menjadi salah satu wasilah untuk mendekat kepada Allah karena di dalamnya terdapat: ketaatan, pengorbanan, rasa syukur, dan kepedulian sosial.
Melalui qurban, seorang muslim belajar mendahulukan Allah di atas cinta kepada harta dan dunia.
2. Meningkatkan Dzikir dan Kesadaran Bertuhan
Allah mensyariatkan qurban agar manusia mengingat dan menyebut nama-Nya.
Allah berfirman:
“Dan bagi tiap-tiap umat telah Kami syariatkan penyembelihan (qurban), supaya mereka mengingat dan menyebut nama Allah terhadap binatang ternak yang telah dirizkikan Allah kepada mereka.” (QS. Al-Hajj: 34)
Qurban mengajarkan bahwa semua nikmat berasal dari Allah: rezeki, kesehatan, meluarga, dan kemampuan berqurban itu sendiri.
Karena itu, qurban menjadi sarana:
memperbanyak dzikir, menumbuhkan rasa syukur, dan membangun God Consciousness (kesadaran selalu merasa diawasi Allah).
3. Qurban Meningkatkan Ketakwaan
Tujuan utama qurban adalah ketakwaan.
Allah berfirman:
“Daging dan darah hewan qurban itu tidak akan sampai kepada Allah, tetapi yang sampai kepada-Nya adalah ketakwaan kalian.” (QS. Al-Hajj: 37)
Qurban mendidik seorang muslim agar: ikhlas, memiliki niat yang lurus, dan rela berkorban demi ridha Allah.
Keikhlasan menjadi ruh dalam ibadah qurban. Amal yang diterima Allah adalah amal yang dilakukan dengan hati yang bertakwa.
4. Pelajaran dari Kisah Dua Putra Nabi Adam
Allah menceritakan kisah dua putra Nabi Adam yang sama-sama mempersembahkan qurban.
“Sesungguhnya Allah hanya menerima dari orang-orang yang bertakwa.” (QS. Al-Ma’idah: 27)
Kisah ini mengajarkan bahwa: Allah melihat kualitas hati, bukan sekadar bentuk lahiriah amal, qurban harus dilakukan dengan ikhlas,
dan iri serta dengki dapat merusak hati manusia.
Qurban seharusnya membuat seseorang semakin rendah hati dan dekat kepada Allah.
5. Qurban Sebagai Bentuk Syukur
Allah memberikan begitu banyak nikmat kepada manusia. Salah satu bentuk syukur adalah dengan berqurban.
Allah berfirman:
“Jika kalian bersyukur, niscaya Aku akan menambah nikmat kepada kalian.” (QS. Ibrahim: 7)
Qurban mengajarkan:
menggunakan harta di jalan Allah, berbagi kepada sesama, dan tidak diperbudak oleh cinta dunia.
Orang yang bersyukur akan semakin taat dan dekat kepada Allah.
6. Qurban adalah Ibadah yang Dicintai Allah
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Tidak ada amalan anak Adam pada hari Nahr yang lebih dicintai Allah selain mengalirkan darah hewan qurban.” (HR. Ahmad dan Tirmidzi)
Hadits ini menunjukkan kemuliaan ibadah qurban di hari Idul Adha.
Qurban menggabungkan:
ibadah hati, pengorbanan harta, ketakwaan, dan kepedulian sosial.
Karena itu, qurban menjadi salah satu amal terbaik di hari raya Idul Adha.
7. Qurban dan Pengampunan Dosa
Dalam hadits disebutkan:
“Wahai Fatimah, berdirilah di sisi qurbanmu, karena tetesan darah pertamanya menjadi pengampunan bagimu atas dosa-dosamu yang telah lalu.” (HR. Al-Bazzar dan Ibnu Hibban)
Maknanya:
qurban dapat menjadi sebab datangnya rahmat dan ampunan Allah, selama dilakukan dengan ikhlas, disertai taubat dan ketakwaan.
Idul Adha seharusnya menjadi momentum: memperbaiki diri, memperbanyak istighfar, dan kembali kepada Allah.
8. Keteladanan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail
a. Doa Meminta Anak Saleh
Nabi Ibrahim berdoa:
“Ya Tuhanku, anugerahkanlah kepadaku keturunan yang saleh.” (QS. Ash-Shaaffat: 100)
Beliau tidak hanya meminta anak, tetapi anak yang saleh.
b. Allah Mengaruniakan Anak yang Santun
Allah berfirman:
“Maka Kami memberi kabar gembira kepadanya dengan seorang anak yang sangat santun.” (QS. Ash-Shaaffat: 101)
Nabi Ismail tumbuh menjadi anak yang:
sabar, santun, dan taat kepada Allah.
c. Ujian Besar Ketaatan
Ketika Nabi Ismail sudah cukup besar, Nabi Ibrahim bermimpi diperintahkan menyembelih anaknya.
“Wahai anakku, sesungguhnya aku bermimpi bahwa aku menyembelihmu.” (QS. Ash-Shaaffat: 102)
Nabi Ismail menjawab dengan penuh keimanan dan kesabaran.
d. Berserah Diri kepada Allah
Allah berfirman:
“Ketika keduanya telah berserah diri…” (QS. Ash-Shaaffat: 103)
Inilah hakikat Islam:
tunduk, patuh, dan rela berkorban demi Allah.
e. Allah Mengganti dengan Sembelihan Besar
Allah kemudian berfirman:
“Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar.” (QS. Ash-Shaaffat: 107)
eristiwa inilah yang menjadi dasar disyariatkannya qurban pada hari raya Idul Adha.
f. Nabi Ibrahim Termasuk Hamba yang Mukmin
Allah menutup kisah ini dengan firman-Nya:
“Sesungguhnya dia termasuk hamba-hamba Kami yang mukmin.” (QS. Ash-Shaaffat: 111)
Keimanan Nabi Ibrahim dibuktikan melalui: ketaatan, kesabaran, pengorbanan, dan keikhlasan.
Hikmah Besar Ibadah Qurban
Qurban mengajarkan: tauhid dan ketakwaan, keikhlasan dalam ibadah, rasa syukur atas nikmat Allah, kepedulian sosial, kesabaran dan pengorbanan, serta, pendidikan iman dalam keluarga.
Qurban juga menjadi pengingat bahwa:
cinta kepada Allah harus lebih besar daripada cinta kepada dunia.
Penutup
Idul Adha bukan sekadar perayaan penyembelihan hewan, tetapi momentum untuk:
▪️︎ memperbaiki hubungan dengan Allah,
▪️︎ memperkuat iman,
▪️︎ memperbanyak syukur,
dan meningkatkan kepedulian kepada sesama.
Semoga Allah menerima amal qurban kita, mengampuni dosa-dosa kita, dan menjadikan kita hamba-hamba-Nya yang bertakwa dan ikhlas.
Aamiin ya Rabbal ‘alamin.
