Penulis : Suradi – Baitul Hikmah BSD
Ramadan Syahrul Quran. Alangkah indahnya malam-malam Ramadan yang berhias dengan tadarus Al-Qur'an. Lantunan ayat-ayat Al-Qur'an yang menggema melalui pengeras suara masjid telah menandai keagungan bulan Ramadan.
Ramadan disebut Syahrul Qur’an bukan sekadar karena di bulan ini umat Islam memperbanyak tilawah, tetapi karena pada bulan inilah wahyu diturunkan sebagai peta jalan kehidupan. Al-Qur’an menegaskan: “Bulan Ramadan adalah (bulan) diturunkannya Al-Qur’an sebagai petunjuk bagi manusia…” (QS Al-Baqarah 2 : 185). Artinya, Ramadan bukan hanya musim ibadah, melainkan momentum pembaruan orientasi dari hidup yang sekadar sibuk menjadi hidup yang bermakna, dari kebiasaan yang reaktif menjadi kesadaran yang reflektif, dari budaya yang mengejar hasil menjadi peradaban yang memuliakan proses.
Puasa, pada dasarnya adalah latihan pengendalian diri. Allah berfirman: “Wahai orang-orang yang beriman, diwajibkan atas kamu berpuasa sebagaimana diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu agar kamu bertakwa” (QS Al-Baqarah 2 : 183).
Takwa bukan sekedar rasa takut, tetapi kesadaran mendalam yang menuntun seseorang untuk mengendalikan diri, mempertimbangkan konsekuensi, dan tetap berpihak pada kebenaran meski tidak mudah. Namun pengendalian diri tanpa arah dapat terasa hampa; seseorang mungkin mampu “menahan”, tetapi belum memahami “untuk apa” ia menahan diri. Di sinilah Al-Qur’an hadir sebagai kompas, yang mengarahkan puasa agar tidak sekadar menahan lapar dan dahaga, melainkan menjadi proses pembinaan karakter, kejernihan hati, dan kemuliaan akhlak.
Dari Tilawah ke Tadabbur, lalu menjadi amal menjalani hidup dengan “nafas Al-Qur’an” berarti menjadikan wahyu bukan hanya suara di bibir, tetapi energi yang menghidupkan pikiran, menuntun kehidupan dan membentuk kebiasaan. Al-Qur’an sendiri mengajak kita untuk tidak berhenti pada bacaan, melainkan sampai pada perenungan. “Tidakkah mereka merenungkan Al-Qur’an ataukah hati mereka sudah terkunci?” (QS Muhammad 47 : 24). Tadabbur adalah sikap ilmiah sekaligus spiritual, membaca dengan pelan, memahami pesan, menghubungkan dengan realitas, lalu memperbaiki diri.
Ramadan memberi teladan kuat tentang tradisi Qur’ani yang hidup. Rasulullah menegaskan kemuliaan orang yang menjadikan Al-Qur’an sebagai jalan hidup: “Sebaik-baik kalian adalah yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya.” (HR. Bukhari). Hadits ini menempatkan Al-Qur’an sebagai fondasi peradaban ilmu. Belajar dan mengajar bukan sekadar aktivitas akademik, tetapi ibadah yang mengangkat martabat manusia. Syahrul Qur’an seharusnya juga menjadi bulan penguatan budaya literasi, bukan hanya membaca teks, tetapi membaca makna. Bukan hanya menguasai teori, tetapi menumbuhkan kebijaksanaan.
Tadarus One Day One Juz. Kembali masjid Baitul Hikmah BSD Tangerang Selatan pada Ramadan 1447H kali ini mengangkat tema sentral Ramadan Gercep Raih Kemenangan sehingga menambah semangat, spirit, tambahan adrenalin dan energi yang terbarukan untuk lebih dekat dan lebih akrab dengan Al Quran dengan program Tadarus One Day One Juz.
Kegiatan One Day One Juz ini dimulai sejak malam pertama Ramadan 1447H dengan bertadarus Juz 1 bertempat di tengah ruang utama masjid Baitul Hikmah dengan berhiaskan lampu yang bercahaya lebih terang menyinari hati para peserta tadarus ini sebagai sebuah inner beauty yang memperkuat motivasi, sikap, komitmen dan keistiqomahan.
Mereka adalah mulai anak-anak hingga orang tua. Alhamdulillah peserta tadarus One Day One Juz menyentuh dan memanggil mulai dari segmen anak-anak (santri pesantren Markaz Hadits dan putra jamaah masjid Baitul Hikmah lainnya), remaja masjid yang terhimpun dalam wadah organisasi generasi emas), dewasa (jamaah masjid Baitul Hikmah) dan orang tua (para senior jamaah masjid Baitul Hikmah) pencari ilmu dan hikmah yang tak lelah, tak letih, tak lesu dan tak lunglai di tengah kesibukan dunia yang memperdaya.
Peserta tadarus tetap dan terus menjaga keistiqomahannya, dimulai ba’da sholat taraweh terus bergegas berkumpul sambil menata meja khusus sebagai alas baca kitab suci Al Quran yang diambil oleh anak-anak dengan kompak dan riang gembira mengangkat satu demi satu meja hingga membentuk persegi empat menyesuaikan jumlah pesertanya. Ditemani dengan beberapa gelas air mineral dan terkadang disediakan juga kurma membersamai peserta tadarus setiap malamnya.
Satu orang peserta tadarus berinisiatif membuka dengan membaca surat Al Fatihah bersama sehingga para peserta semakin khusyu dan khidmat membaca per lembar mushaf Al Quran dan peserta yang lain menyimaknya. Apabila ada bacaan yang khilaf maka langsung diluruskan oleh sesama peserta. Satu demi satu secara bergantian membacanya dan terjadi proses pembelajaran diantara peserta terutama saling menyemangati lebih kenal dan lebih dekat dengan Al Quran.
Kehadiran dan keikutsertaan santri Markaz Hadits mulai 1 s.d 21 Ramadan 1447H sangat mewarnai suasana dan aura religi yang dirasakan oleh peserta sehingga semakin semarak bertebarkan lantunan kalam ilahi bersamaan dengan para santri Markaz Hadits lainnya di ruang masjid Baitul Hikmah dengan kegiatan rutin membentuk holaqoh-holaqoh. Pemandangan ini tentu saja tidak banyak dijumpai di masjid-masjid yang lainnya. Bersyukur masjid Baitul Hikmah berada dalam satu area dengan pesantren Markaz Hadits yang mengedukasi dan mengajarkan santri tingkat tsanawiyah sebagai santri hafidz Quran sehingga memperlancar jalannya tadarusan.
Tiap malamnya rata-rata diikuti oleh 8 peserta bahkan pernah diikuti hingga lebih dari 12 peserta. Selesainya rata-rata pada pk 22.00 wib dan ditutup oleh peserta dengan muatan rasa syukur atas selesainya membaca Al Quran satu juz per malamnya dan membaca hamdallah serta doa kafaratul majlis bersama dengan harapan Allah pertemukan kembali di malam Ramadan dan tadarus Al Quran juz berikutnya.
Ada yang unik , menarik dan iconik. Di setiap malamnya saling berfastabiqul khairat antara peserta tadarus dengan holaqoh santri Markaz Hadits yang suara bacaan kalam ilahi menghiasi ruangan masjid Baitul Hikmah bahkan hingga di teras masjid. Ada suasana yang unik dan menarik usai kegiatan tadarus ditutup dengan hamdallah dan doa kafaratul majlis bersama, Ada apa dengan beberapa anak santri Markaz Hadits yang mengikuti holaqoh di masjid Baitul Hikmah masih tetap bertahan duduk dan tidak mau beranjak dari tempat duduknya meski waktu holaqohnya sudah selesai?.
Dengan tatapan mata yang ceria dan seyum serta ketawa kecil maka seorang peserta tadarus bertanya kepada para santri Makaz Hadits apakah ada agenda berikutnya para santri Markaz Hadits? Maka para santripun menjawab dengan kompak dan serentak menunggu pantun bernasehat. Kemudian seorang peserta tadaruspun menyampaikan 2 atau 3 pantun bernasehat dan secara spontan mendapat respon cakeeeep di setiap baris pantun yang terucap. Usai penyampaian pantun maka para santri Markaz Hadits serentak beranjak keluar dari ruang utama masjid Baitul Hikmah bersama peserta tadarus dengan riang gembira menuju ke gedung Baitul Yatim tempat menginap santri.
Hari-hari Ramadan berikutnya terus bergulir dan suasana usai tadaruspun ada perkembangan yang membuat riang gembira. Suasana tersebut adalah ketika pak Hasan peserta tadarus yang mewakili segmen orang tua juga ingin menyampaikan pantun bernasehat. Al hasil langsung berkerumunlah para santri Markaz Hadits mendekati pak Hasan sambil berucap cakeeeep bak supporter pertandingan olahraga.
Esok harinya ada seorang santri Markaz Hadits sepulang tadarus yang memberanikan diri dan menghampiri sambil bertanya apakah boleh menjawab pantun? Maka dijawab langsung sangat boleh menjawab pantun. Maka di malam Ramadan berikutnya semakin semarak saling berbalas pantun antara peserta tadarus dengan santri Markaz mulai dari yang hanya 1 anak santri Markaz Hadits yang memberanikan diri berpantun hingga beberapa anak santri Markaz Hadits lainnya.
Selamat jalan selamat sampai tujuan menikmati liburan. Kala itu malam ke 21 Ramadan 1447H atau bertepatan 10 Maret 2026 saat dimulainya liburan pesantren Markaz Hadits sehingga sebagian besar asatidz dan santri pulang mudik lebaran berkumpul dengan orangtua dan atau keluarga tercinta. Alhamdulillah untuk tetap dan terus menjaga keistiqomahan tadarus di putaran 10 hari terakhir Ramadan 1447H seiring bertambahnya peserta program i’tikaf maka peserta tadarus dari segmen anak-anak dilanjutkan dengan anak-anak putra jamaah masjid Baitul Hikmah.
Ada testimoni seorang peserta yang mengungkapkan rasa syukur karena ada peserta tadarusan anak-anak setelah diberi kesempatan bergabung ternyata mau dan mampu mengikuti acara tadarus secara bergantian bersama-sama dengan teman-teman sebayanya. Sungguh suatu pemandangan dan pembelajaran yang indah dan penuh dengan keberkahan.
Antara keistiqomahan dan syukuran. Hari berganti hari malampun berganti malam hingga akhirnya di penghujung Ramadan tepat pada Rabu, 18 Maret 2026 jumlah peserta mencapai lebih dari 10 orang meski sebagian jamaah masjid Baitul Hikmah menikmati pulang mudik lebaran untuk birul walidain dan keluarga. Malam itu para peserta tadarus masjid Baitul Hikmah berkesempatan bergabung menyelesaikan juz 29 dan juz 30 dan ditutup dengan doa bersama dengan doa khatam Al Quran.
“Ya Allah, belas kasihanilah aku karena Al Quran. Jadikanlah Al Quran sebagai imamku, petunjuk dan rahmat. Ya Allah, ingatkan aku dengannya bila aku lupa dan ajarilah aku apa yang tidak mengerti dari padanya. Berilah aku bisa membaca waktu malam dan siang. Jadikanlah dia hujjah bagiku wahai Tuhan seru sekalian alam.” Aamiin.
Inilah satu dari sekian banyak ibadah yang melalui proses, waktu dan perjuangan panjang sebulan penuh menjaga keistiqomahan dan berbuah rasa syukur atas nikmat iman dan nikmat islam yang Allah karuniakan serta dua nikmat yang sering manusia lalaikan yaitu nikmat sehat dan nikmat kesempatan untuk lebih dekat dan lebih akrab dengan Al Quran melalui program One Day One Juz.
Dengan langkah kaki dan ayunan tangan kegembiraan maka peserta tadarus berbegas menuju ke teras masjid Baitul Hikmah. Alhamdulillah di teras masjid Baitul Hikmah telah terhidang menu spesial sebagai syukuran khataman Al Quran. Terimakasih kepada ibu-ibu Muslimah Baitul Hikmah telah menyiapkan hidangan makan spesial khataman Al Quran. Indah dan berkahnya menikmati syukuran khataman Al Quran dalam suasana kebersamaan. Semoga spirit lebih dekat dan lebih akrab dengan Al Quran terus berlanjut dan menghiasi 11 bulan berikutnya, menikmati hari kemenangan Idul Fitri 1447H dan tetap menjaga keistiqomahan dalam ketakwaan. Aamiin.
Jalan-jalan ke pasar Cibubur, jangan lupa belanja buah durian.
Kita semua sungguh bersyukur, bertadarus dan khatam Al Quran.
Kerlip kerlip bintang bertaburan, hanya satu yang terlihat menawan.
Lebih dekat dan akrab dengan Al Quran, hidup kitapun penuh keberkahan.
Bila tuan ke Tangerang Selatan, ada taman kota yang mempesona.
Dengan bertadarus Al Quran, semoga Allah menerima ibadah puasa kita.
Kecil-kecil buah duku, kalau besar buah durian.
Ya Allah sayangilah aku, karena Al Quran.




