Meneladani Rasulullah menjadi Ahli Ibadah dan Manfaat

Penulis : Suradi, SE, MM, CPS-Baitul Hikmah BSD

Meneladani Rasulullah. Meneladani Rasulullah bukan sekadar mengenal sejarah kehidupan beliau atau memperbanyak ucapan shalawat, tetapi bagaimana nilai-nilai yang beliau ajarkan diwujudkan dalam kehidupan sehari-hari. Kejujuran beliau menjadi pedoman dalam bekerja, amanah menjadi landasan dalam menjalankan tanggung jawab, kesabaran menjadi kekuatan menghadapi ujian, dan kasih sayang menjadi dasar dalam membangun hubungan dengan sesama.

Rasulullah mengajarkan kepada kita bahwa kemuliaan seseorang tidak hanya terlihat dari ibadahnya kepada Allah, tetapi juga dari akhlaknya kepada manusia. Beliau menghormati orang lain, menyayangi yang lemah, memaafkan kesalahan, menepati janji, dan senantiasa mengutamakan kemaslahatan umat.

Karena itu, momentum untuk mengenang dan mencintai Rasulullah hendaknya menjadi kesempatan bagi kita untuk melakukan muhasabah dan perubahan diri. Sudahkah kejujuran Rasulullah tercermin dalam perkataan kita? Sudahkah amanah beliau tercermin dalam pekerjaan dan tanggung jawab kita? Sudahkah kasih sayang beliau hadir dalam keluarga dan lingkungan kita? Sudahkah ajaran beliau menjadi pedoman dalam setiap langkah kehidupan kita? Meneladani Rasulullah pada akhirnya adalah sebuah proses untuk menghadirkan akhlak mulia dalam kehidupan nyata. Semoga kecintaan kita kepada Rasulullah tidak berhenti pada lisan, tetapi tumbuh menjadi keteladanan dalam sikap, perilaku, pekerjaan, keluarga, masyarakat, dan pengabdian kepada umat.

Approach.

لَقَدْ كَانَ لَكُمْ فِيْ رَسُوْلِ اللّٰهِ اُسْوَةٌ حَسَنَةٌ لِّمَنْ كَانَ يَرْجُوا اللّٰهَ وَالْيَوْمَ الْاٰخِرَ وَذَكَرَ اللّٰهَ كَثِيْرًا

“Sungguh, pada (diri) Rasulullah benar-benar ada suri teladan yang baik bagimu, (yaitu) bagi orang yang mengharap (rahmat) Allah dan (kedatangan) hari Kiamat serta yang banyak mengingat Allah.” (QS Al Ahzab 33 : 21)

Dalam surat Al Ahzab ayat 21 tersebut tersurat dan tersirat pemaknaan dalam 2 dimensi. Pertama, dimensi hasil bahwa Rasulullah adalah teladan yang baik bagi umat. Kedua, dimensi proses bahwa Allah memberikan petunjuk, panduan dan pedoman kepada hamba Nya untuk meneladani Rasulullah dengan cara mengharap rakhmat Allah dan kedatangan hari kiyamat serta banyak mengingat Allah.

Mengharap rakhmat Allah. Begitu banyak rakhmat Allah yang dianugerahkan kepada kita sebagai hambanya. Di sisi lain Allah mempertegas tentang diciptakaannya manusia ini untuk apa. Allah berfirman dalam Adz Adzriyat 51 : 56.

وَمَا خَلَقْتُ الْجِنَّ وَالْاِنْسَ اِلَّا لِيَعْبُدُوْنِ

“Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia kecuali untuk beribadah kepada-Ku.” (QS Adz Dzariyat 51 : 56)

Mengharap kedatangan hari kiyamat. Sadar atau tidak sadar, atau tidak mau maka suatu saat kita akan menjalani kedatangan hari kiyamat. Setiap manusia akan dibangkitkan dan dihisap. Amal yang pertama dihisap adalah sholat kita. Apakah sholat kita selama ini sudah sesuai yang dicontohkan Rasulullah baik dari aspek kuantitas maupun aspek kualitas.

“Sesungguhnya amal seorang hamba yang pertama kali dihisab pada hari kiamat adalah salatnya.” (HR. Abu Dawud, Tirmidzi, dan An-Nasa’i)

Banyak mengingat Allah. Aktualisasi mengingat Allah adalah bersyukur atas nikmat Allah dan bersabar atas ujian dan atau musibah. Apa saja yang terjadi di dunia atas ijin Allah. Dalam perspektif Islam, segala sesuatu yang terjadi di alam semesta berlangsung dengan izin dan kehendak Allah, tetapi bukan berarti manusia tidak memiliki pilihan dan tanggung jawab.

Allah berfirman :

وَمَا تَشَاۤءُوْنَ اِلَّآ اَنْ يَّشَاۤءَ اللّٰهُ رَبُّ الْعٰلَمِيْنَ ࣖ

“Dan kamu tidak dapat menghendaki (menempuh jalan itu), kecuali apabila dikehendaki Allah, Tuhan seluruh alam.” (QS At Takwir 81 : 29)

Hal ini dapat dipahami melalui dua sisi : Allah memiliki kehendak dan kekuasaan mutlak atas seluruh kejadian.Manusia tetap diberi ikhtiar dan pilihan, sehingga perbuatan manusia memiliki konsekuensi dan akan dipertanggungjawabkan. Karena itu, ketika mendapatkan nikmat, kita bersyukur; ketika menghadapi ujian, kita bersabar; dan dalam setiap usaha kita tetap bertawakal kepada Allah.

Meneladani Rasulullah, dapat dirangkai menjadi pesan: “Apa pun yang terjadi dalam kehidupan kita tidak lepas dari izin Allah. Namun Rasulullah mengajarkan kepada kita untuk tidak berpangku tangan. Kita harus berikhtiar dengan sungguh-sungguh, berdoa, kemudian menyerahkan hasilnya kepada Allah. Karena tugas manusia adalah berusaha sebaik-baiknya, sedangkan hasil akhirnya berada dalam ketetapan Allah.

Menjadi ahli ibadah dan manfaat dalam 3 pesrpektif. Pertama, perspektif tujuan. Dalam mendekatkan diri kepada Allah ahli ibadah lebih mengutamakan ego pribadi. Sedangkan ahli manfaat sambil mendekatkan diri kepada Allah ia juga sekaligus berharap orang lain pun ikut mendekat kepada Allah atau dengan kata lain ahli manfaat tidak ingin masuk surga sendirian. Kedua, perspektif amaliyah dalam hal beramal, ketika ahli ibadah meninggal dunia amalnya terputus sedangkan ahli manfaat amalnya terus melaju dan mengalir. menebar manfaat kepada sesama. Ketiga, perspektif pahala Ahli manfaat memperoleh passive income dalam bentuk pahala yang terus mengalir. Para ahli manfaat adalah investor pahala jangka panjang maka ahli ibadah bisa disebut sebagai investor pahala jangka pendek.

Portofolio amaliyah : Dimana posisi kita?

Untuk mengetahui dan menakar secara sekilas bisa kita petakan portofolio amaliyahm dimanakah posisi kita ? In syaa Allah kita sedang dan terus menuju ke kuadran dengan aspek kuantita yang banyak dan aspek kualitas yang tinggi sesuai syariat.

Rasulullah telah memberikan teladan sekaligus mendorong kaum Muslimin agar menjadi manusia yang bisa memberikan manfaat kepada orang lain. ”Orang yang paling baik adalah orang yang paling banyak memberi manfaat kepada orang lain”.

Optimisme meneladani Rasulullah. Allah berfirman dalam surat Al Jumuah 62 : 10.

فَاِذَا قُضِيَتِ الصَّلٰوةُ فَانْتَشِرُوْا فِى الْاَرْضِ وَابْتَغُوْا مِنْ فَضْلِ اللّٰهِ وَاذْكُرُوا اللّٰهَ كَثِيْرًا لَّعَلَّكُمْ تُفْلِحُوْنَ

Artinya ”Jika selesai mengerjakan sholat maka bertebaranlah kamu di muka bumi dan carilah karunia-Nya dan perbanyaklah mengingat Allah Swt agar engkau beruntung.” (QS Al Jumuah 62 : 10)

Meneladani Rasulullah dimulai dari diri sendiri. Meneladani Rasulullah tidak harus dimulai dengan sesuatu yang besar. Kita dapat memulainya dari hal-hal sederhana: memperbaiki shalat, berkata jujur, menepati janji, menghormati orang tua, menyayangi keluarga, membantu sesama, menjaga kebersihan, bekerja dengan sungguh-sungguh, dan menjauhi perbuatan yang merugikan orang lain. Jika akhlak Rasulullah kita hadirkan dalam kehidupan pribadi, keluarga, tempat kerja, dan masyarakat, maka akan lahir lingkungan yang lebih aman, damai, produktif, dan penuh keberkahan.

Penutup. Mari kita jadikan Rasulullah bukan hanya sebagai sosok yang kita cintai dan kita kenang, tetapi juga sebagai teladan yang kita ikuti. Mencintai Rasulullah bukan sekadar memperbanyak ucapan shalawat, tetapi juga berusaha mengikuti sunnah dan akhlak beliau. Semakin kita mengenal Rasulullah, semakin kita mencintai beliau. Dan semakin kita mencintai beliau, semoga semakin kuat pula keinginan kita untuk mengikuti keteladanan beliau.

Rasulullah adalah teladan dalam iman, ibadah, akhlak, kepemimpinan, keluarga, pekerjaan, dan kehidupan bermasyarakat. Semoga Allah memberikan kita kekuatan untuk meneladani Rasulullah, memperbaiki akhlak kita, dan mengumpulkan kita bersama beliau di dalam surga-Nya. (Materi bersumber dan dikembangkan oleh penulis sebagai khotib Jumat pada 4 September 2026 di masjid Baitul Hikmah BSD).

Indah nian baju kebaya,
Dipake orang ke tempat orang berhajat.
Rasulullah menjadi teladan kita,
Marilah jadi ahli ibadah dan manfaat.